KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr.wb, Puji Syukur kita
panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa karena atas berkat dan anugerahnya yang
berlimpah kelompok satu dapat menyelesaikan makalah ini dengan sebaik mungkin.
Adapun makalah tersebut kami susun
sesuai dengan materi yang diberikan oleh dosen Pembina kedua matakuliah Ilmu
Kealaman Dasar yang dengan hormat kami menyebut namanya Bapak Dr. Ir. Sakka
Samudin, Mp. Dari sub materi yang diberikan kami memaparkan hubungan antar makhluk hidup dengan
lingkungannya sangat erat dan saling ketergantungan, karena makhluk yang
satu membutuhkan bantuan makhluk lain. Makhluk hidup membutuhkan lingkungan
untuk membantu memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebaliknya lingungan juga
membutuhkan makhluk hidup dalam kelangsungan hidupnya.
Ekosistem merupakan kesatuan
komunitas dengan lingkungannya yang membentuk hubungan timbal balik. Ekosistem
tersusun atas tiga komponen , yaitu komponen biotik, komponen abiotik dan
komponen pengurai (dekomposer). Komponen biotik adalah komponen ekosistem yang
hidup yang terdiri dari makhluk hidup yang meliputi tumbuhan, hewan dan
manusia.
Demikianlah yang bisa kami sampaikan
untuk menghantar makalah ini apabila masih banyak kekurang dari makalah yang kami
susun sesuai dengan kelompok satu kami sangat mengaharapkan kritik serta saran
yang membangun demi menyempurnakan makalah ini. Sekian dari kami semoga dapat
bermanfaat bagi kita semua atas perhatiannya kami mengucapkan terima kasih.
Penyusun,
KELOMPOK 1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Tingkat organisasi yang
lebih tinggi dari komunitas adalah ekosistem. Tidak hanya mencakup serangkaian
spesies tumbuhan saja, tetapi juga segala bentuk materi yang melakukan siklus
dalam sistem itu, dan energi yang menjadi sumber kekuatan bagi ekosistem. Sinar
matahari merupakan sumber energi dalam sebuah ekosistem, yang oleh tumbuhan
dapat diubah menjadi energi kimia melalui proses fotosintesis. Kemampuan
tumbuhan menyerap berbagai bahan mineral dari tanah, yang seterusnya diolah
dalam proses metabolisme. Semua jaringan hidup, baik hewan maupun tumbuhan akan
mati, jatuh ketanah sebagai sampah, dan menajadi bahan makanan bagi aneka ragam
mikroba tanah. Jadi dalam tanah itu dapat juga dijumpai dua jenis mikroba,
yaitu mikroba pembusuk dan mikroba pengurai.
Ekosistem adalah suatu sistem
ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan
lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh
dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi.
Ekositem juga merupakan suatu system
ekologik yang merupakan unit fungsional yang dihasilkan dari interaksi komponen
biotic (makhluk hidup atau organisme), komponen abiotik (benda
mati), dan juga komponen kebudayaan(antropogenik). Kedua komponen yaitu biotik
dan abiotik tersebut berada pada suatu tempat dan berinteraksi membentuk suatu
kesatuan yang teratur. Misalnya, pada suatu ekosistem akuarium, ekosistem ini
terdiri dari ikan, tumbuhan air, plankton yang terapung di air sebagai komponen
biotik, sedangkan yang termasuk komponen abiotik adalah air, pasir, batu,
mineral dan oksigen yang terlarut dalam air. Satuan makhluk hidup dalam
ekosistem dapat berupa individu, populasi, atau komunitas.
Individu adalah makhluk tunggal.
Contohnya: seekor kelinci,seekor serigala, atau individu yang lainnya. Sejumlah
individu sejenis (satu species) pada tempat tertentu akan membentuk Populasi.
Contoh : dipadang rumput hidup sekelompok kelinci dan sekelompok srigala.
Jumlah anggota populasi dapat mengalami perubahan karena kelahiran, kematian,
dan migrasi ( emigrasi dan imigrasi). Sedangkan komunitas yaitu seluruh
populasi makhluk hidup yang hidup di suatu daerah tertentu dan diantara satu
sama lain saling berinteraksi. Contoh: di suatu padang rumput terjadi saling
interaksi antar populasi rumput, populasi kelinci dan populasi serigala. Setiap
individu, populasi dan komunitas menempati tempat hidup tertentu yang disebut
habitat.
Semua ekosistem merupakan sistem
yang terbuka dalam arti terjadi transfer energi maupun material ke dalam dan ke
luar. Tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme merupakan faktor biotik dan menempati
daerah biosfer dan membentuk organisasi alam hayati. Taraf organisasi tersebut
digamabarkan sebagai suatu spectrum biologi yang tersusun atas
sitoplasma sebagai substansi dasar kehidupan yang akan membentuk sel, jaringan,
organ, sistem organ, organisme, populasi, komunitas, ekosistem, dan biosfer.
Sementara air, udara, batuan, mineral, dan energi merupakan faktor abiotik.
Bumi sebagai suatu ekosistem tunggal yang sangat besar tersusun atas
ekosistem-ekosistem yang lebih kecil dan saling terkait satu sama lainnya.
1.2
LANDASAN TEORI
Belajar
dari kesalahan para pendahulunya Pasteur merancang suatu percobaan untuk
membuktikan bahwa kehidupan terbentuk bukan dari benda mati. Pasteur
menggunakan labu dengan leher angsa yang diidikan dengan air kaldu yang telah
disterilkan dengan pemanasan. Kemudian labu dimiringkan sehingga ada sedikit
kaldu yang tersisa di mulut tabung angsanya. Setelah beberahari kemuadian
diamati, dan hasilnya menunjukkan bahwa air kaldu yang ada di mulut tabung
angsa menjadi keruh (ada mikroba), sedangkan air kaldu yang ada di dalam labu
tidak. Penelitian Pasteur ini akhirnya mampu mematahkan kekukuhan abiogenesis.
Dalam postuatnya, Pasteur menyatakan bahwa omne vivum ex vivo (setiap kehidupan
berasal dari makhluk hidup, setiap makhluk hidup berasal dari makhluk hidup
sebelumnya).
Sedangkan
Ekosistem adalah suatu
sistem di alam dimana di dalamnya terjadi hubungan timbal balik antara
organisme dengan organisme yang lainnya, serta kondisi lingkungannya. Ekosistem
sifatnya tidak tergantung kepada ukuran, tetapi lebih ditekankan kepada
kelengkapan komponennya. Ekosistem lengkap terdiri atas komponen abiotik dan
biotik. (Joko Waluyo, 2013:23)
1.3
RUMUSAN MASALAH
Ada beberapa rumusan
masalah yang dapat dikaji dalam makalah ini yang terkait pada Makhluk hidup dalam ekosistem alami berikut
ini ialah:
1.
Bagaimana populasi dan
komunitas mahluk hidup?
2. Apa saja yang terkait dalam
berbagai ekosistem alami?
3. Bagaimana aliran energi dan materi dalam ekosistem
alami?
4.
Apa macam-macam
bentuk pola kehidupan?
1.4
TUJUAN MAKALAH
Didalam pembahasan
makalah kami, kami ingin memaparkan bagaimana makhluk hidup dalam ekosistem
alami dan bagian-bagian yang berkaitan dengan ekosistem alami itu sendiri,
seperti pengertian-pengerian dan bagian-bagian yang berkaitan dengannya, baik
dari segi biotik dan abiotiknya. Maka dari itu, kami berusaha menyusunnya
sebaik mungkin supaya dapat dipahami mengenai makhluk hidup dalam ekosistem
alami oleh para pembaca.
1.5
MANFAAT MAKALAH
Kami sangat
mengharapkan makalah ini memiliki manfaat bagi pembaca serta pemateri adapun beberapa manfaat yang ingin dituju
oleh penyusun adalah sebagai berikut:
1.
Untuk mengetahui apa saja makhluk hidup yang berada dalam ekosistem
alami.
2.
Untuk menegetahui bagaimana populasi dan komunitas makhluk hidup.
3.
Untuk membuat mahasiswa mengerti tentang bagian dari ekosisem alami
makhluk hidup.
4.
Untuk membuat penyusun menguasai materi tentang makhluk hidup dalam
ekosistem alami.
5.
Semoga bermanfaat bagi Dosen pembina matakuliah Ilmu kealaman Dasar.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 POPULASI DAN KOMUNITAS
MAKHLUK HIDUP
1.
Populasi
Makhluk Hidup
Populasi
berasal dari bahasa latin yaitu populous
= rakyat, berarti penduduk. Di dalam ekologi yang dimaksudkan dengan populasi
adalah sekelompok individu yang sejenis. Apabila membicarakan populasi,
haruslah disebut jenis individu yang dibicarakan, dengan menentukan batas-batas
waktunya serta tempatnya.
Dalam biologi, populasi
adalah sekumpulan individu dengan ciri-ciri yang sama (spesies) yang
hidup di tempat yang sama dan memiliki kemampuan bereproduksi di antara
sesamanya (Wikipedia, 2014:1).
Populasi adalah
sekumpulan individu dengan ciri-ciri yang sama
(spesies) yang hidup menempati ruang yang sama pada waktu tertentu. Anggota-anggota
populasi secara alamiah saling berinteraksi satu sama lain dan bereproduksi di
antara sesamanya. Konsep populasi banyak dipakai dalam ekologi dan genetika. Ekologiwan memandang populasi
sebagai unsur dari sistem yang lebih luas. Populasi suatu spesies adalah bagian
dari suatu komunitas. Selain itu, evolusi juga bekerja
melalui populasi. Ahli-ahli genetika, di sisi lain, memandang populasi sebagai
sarana atau wadah bagi pertukaran alel-alel yang dimiliki oleh
individu-individu anggotanya. Dinamika frekuensi alel dalam suatu populasi
menjadi perhatian utama dalam kajian genetika populasi.
Jadi, populasi adalah kelompok kolektif organisme-organisme
dari jenis yang sama yang menduduki ruang atau tempat yang terbuka, dan
memiliki berbagai ciri atau sifat yang merupakan milik yang unik dari kelompok
dan tidak merupakan milik individu di dalam kelompok itu. Contoh populasi yaitu
: populasi burung flamingo, populasi udang, populasi kura- kura, populasi
tanaman air tawar, dan sebagainya.

Gambar
2.1. Populasi Burung Flamingo
2.
Komunitas
Makhluk Hidup
Komunitas adalah sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki
ketertarikan dan habitat yang sama. Dalam komunitas manusia, individu-individu di dalamnya dapat
memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko,
kegemaran dan sejumlah kondisi lain yang serupa (Wikipedia, 2014:1).
Menurut Wenger (dalam Wikipedia, 2014:1), komunitas
berasal dari bahasa Latin communitas yang berarti
"kesamaan", kemudian dapat diturunkan dari communis yang
berarti “sama, publik, dibagi oleh semua atau banyak”.
Menurut
Crow dan Allan, Komunitas dapat terbagi menjadi 3 komponen :
Berdasarkan Lokasi atau Tempat
Wilayah atau tempat sebuah komunitas dapat dilihat sebagai
tempat dimana sekumpulan orang mempunyai sesuatu yang sama secara geografis.
Dan saling mengenal satu sama lain sehingga tercipta interaksi dan memberikan
konstribusi bagi lingkungannya.
Berdasarkan Minat
Sekelompok orang yang mendirikan suatu komunitas karena
mempunyai ketertarikan dan minat yang sama, misalnya agama, pekerjaan, suku,
ras, hobi maupun berdasarkan kelainan seksual. Komunitas berdasarkan minat
memiliki jumlah terbesar karena melingkupi berbagai aspek, contoh komunitas
pecinta animasi dapat berpartisipasi diberbagai kegiatan yang berkaitan dengan
animasi, seperti menggambar, mengkoleksi action figure maupun film.
Berdasarkan Komuni
Komuni dapat berarti ide dasar yang dapat mendukung
komunitas itu sendiri. Suatu
komunitas terdiri dari banyak jenis dengan berbagai macam fluktuasi populasi
dan interaksi satu dengan yang lainnya. Komunitas terdiri dari berbagai
organisme-organisme dan saling berhubungan pada suatu lingkungan tertentu. Atau
dapat juga dikatakan bahwa komunitas adalah sekelompok makhluk-makhluk hidup
dari berbagai macam jenis yang hidup bersama pada suatu daerah. Jadi komunitas
adalah seluruh populasi yang hidup bersama pada suatu daerah dan saling
berinteraksi. Contoh
komunitas yaitu : kumpulan populasi udang (komunitas air tawar), komunitas air laut, komunitas hutan hujan tropis, dll.
2.2 BERBAGAI
EKOSISTEM ALAMI
Ekosistem adalah suatu sistem
ekologi yang terbentuk dari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan
lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan sebagai suatu tatanan kesatuan secara
utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling
memengaruhi. Ekosistem merupakan penggabungan dari setiap unsur biosistem yang
melibatkan hubungan timbal balik antara organisme dan lingkungan fisik.
Penggabungan tersebut menimbulkan energi terhadap suatu struktur biotik
tertentu dan akan menimbulkan siklus materi antara organisme dan anorganisme.
Ekosistem terdiri atas beberapa
komponen pembentuk, yaitu komponen biotik, abiotik, dan pengurai (dekomposer).
Berikut ini penjelasan mengenai komponen penyusun ekosistem.
a)
Komponen Biotik
Biotik merupakan suatu istilah yang
biasa digunakan untuk menyebut sesuatu yang hidup (organisme). Komponen biotik
terbagi menjadi dua, yaitu komponen heterotrof dan autotrof. heterotrof terdiri
dari organisme yang memanfaatkan bahan-bahan organik yang disediakan oleh
organisme lain sebagai makanannya. Komponen ini disebut juga konsumen makro
karena makanan yang dikonsumsi berukuran lebih kecil. Yang termasuk golongan
komponen ini, antara lain manusia, hewan, jamur, dan mikroba.
Sementara itu, komponen autotrof
adalah organisme yang mampu menyediakan makanan sendiri dengan bantuan energi
seperti energi matahari ataupun energi yang bersifat kimia. Komponen autotrof
berfungsi sebagai produsen. Yang tergolong komponen ini adalah tumbuhan hijau.
b)
Komponen Abiotik
Komponen abiotik (bahan tak hidup)
adalah komponen fisik dan kimia yang merupakan middle tempat berlangsungnya
kehidupan. komponen abiotik dapat berupa bahan organik, senyawa organik, dan
faktor yang mempengaruhi distribusi organisme. Komponen abiotik terdiri atas
suhu, air, udara, sinar matahari, tanah, dan iklim.
c)
Komponen Pengurai (Dekomposer)
Komponen pengurai atau dekomposer
adalah organisme yang menguraikan bahan organik yang berasal dari organisme
mati. Organisme pengurai menyerap sebagian hasil penguraian tersebut dan
melepaskan bahan-bahan yang sederhana yang dapat digunakan kembali oleh produsen.
Yang termasuk golongan pengurai adalah bakteri dan jamur.
Ekositem alami merupakan ekositem yang
komponen-komponennya lebih lengkap, tidak memerlukan pemeliharan atau subsidi
energi karena dapat memelihara dan memenuhi sendiri, dan selalu dalam keseimbangan.
Ekosistem ini lebih mantap, tidak mudah terganggu, tidak mudah tercemar,
kecuali jika ada bencana alam. Ekositem alami juga dibentuk secara sendiri
tanapa campur tangan manusia. Ekosistem alami terdiri dari :
a.
Ekosistem Darat
Ekosistem darat ialah ekosistem yang lingkungan fisiknya
berupa daratan. Berdasarkan letak geografisnya (garis lintangnya), ekosistem
darat dibedakan menjadi beberapa bioma, yaitu sebagai berikut.
1.
Bioma Gurun
Beberapa Bioma gurun terdapat di daerah tropika (sepanjang
garis balik) yang berbatasan dengan padang rumput. Ciri-ciri bioma gurun adalah
gersang dan curah hujan rendah (25 cm/tahun). Suhu siang hari tinggi (bisa
mendapai 45°C) sehingga penguapan juga tinggi, sedangkan malam hari suhu sangat
rendah (bisa mencapai 0°C).
Perbedaan suhu antara siang dan malam sangat besar.
Tumbuhan semusim yang terdapat di gurun berukuran kecil. Selain itu, di gurun
dijumpai pula tumbuhan menahun berdaun seperti duri contohnya kaktus, atau tak
berdaun dan memiliki akar panjang serta mempunyai jaringan untuk menyimpan air.
Hewan yang hidup di gurun antara lain rodentia, ular, kadal, katak, dan
kalajengking.

Gambar 2.2. Bioma Gurun
1.
Bioma Padang Rumput
Bioma ini terdapat di daerah yang terbentang dari daerah
tropik ke subtropik. Ciri-cirinya adalah curah hujan kurang lebih 25-30 cm per
tahun dan hujan turun tidak teratur. Porositas (peresapan air) tinggi dan
drainase (aliran air) cepat. Tumbuhan yang ada terdiri atas tumbuhan terna
(herbs) dan rumput yang keduanya tergantung pada kelembapan. Hewannya antara
lain: bison, zebra, singa, anjing liar, serigala, gajah, jerapah, kangguru,
serangga, tikus dan ular.

Gambar 2.3. Bioma Padang Rumput
2.
Bioma Hutan Basah
Bioma Hutan Basah terdapat di daerah tropika dan subtropik.
Ciri-cirinya adalah, curah hujan 200-225 cm per tahun. Spesies pepohonan
relatif banyak, jenisnya berbeda antara satu dengan yang lainnya tergantung
letak geografisnya. Tinggi pohon utama antara 20-40 m, cabang-cabang pohon
tinngi dan berdaun lebat hingga membentuk tudung (kanopi). Dalam hutan basah
terjadi perubahan iklim mikro (iklim yang langsung terdapat di sekitar
organisme). Daerah tudung cukup mendapat sinar matahari. Variasi suhu dan
kelembapan tinggi/besar; suhu sepanjang hari sekitar 25°C. Dalam hutan basah
tropika sering terdapat tumbuhan khas, yaitu liana (rotan), kaktus, dan anggrek
sebagai epifit. Hewannya antara lain, kera, burung, badak, babi hutan, harimau,
dan burung hantu.

Gambar 2.4. Bioma Hutan Basah
3.
Bioma Hutan Gugur
Bioma hutan gugur terdapat di daerah beriklim sedang.
Ciri-cirinya adalah curah hujan merata sepanjang tahun. Terdapat di daerah yang
mengalami empat musim (dingin, semi, panas, dan gugur). Jenis pohon sedikit (10
s/d 20) dan tidak terlalu rapat. Hewannya antara lain rusa, beruang, rubah, bajing,
burung pelatuk, dan rakoon (sebangsa luwak).

Gambar 2.5. Bioma Hutan Gugur
2.
Bioma Taiga
Bioma taiga terdapat di belahan bumi sebelah utara dan di
pegunungan daerah tropik. Ciri-cirinya adalah suhu di musim dingin rendah.
Biasanya taiga merupakan hutan yang tersusun atas satu spesies seperti konifer,
pinus, dap sejenisnya. Semak dan tumbuhan basah sedikit sekali. Hewannya antara
lain moose, beruang hitam, ajag, dan burung-burung yang bermigrasi ke selatan
pada musim gugur.

Gambar 2.6. Bioma Taiga
3.
Bioma Tundra
Bioma tundra terdapat di belahan bumi sebelah utara di
dalam lingkaran kutub utara dan terdapat di puncak-puncak gunung tinggi.
Pertumbuhan tanaman di daerah ini hanya 60 hari. Contoh tumbuhan yang dominan
adalah Sphagnum, liken, tumbuhan biji semusim, tumbuhan kayu yang pendek, dan
rumput. Pada umumnya, tumbuhannya mampu beradaptasi dengan keadaan yang dingin.
Hewan yang hidup di daerah ini ada yang menetap dan ada yang datang pada musim
panas, semuanya berdarah panas. Hewan yang menetap memiliki rambut atau bulu
yang tebal, contohnya muscox, rusa kutub, beruang kutub, dan insekta terutama
nyamuk dan lalat hitam.

Gambar 2.7. Bioma Tundra
b.
Ekosistem Air Tawar
Ciri-ciri ekosistem air tawar antara lain variasi suhu
tidak menyolok, penetrasi cahaya kurang, dan terpengaruh oleh iklim dan cuaca.
Macam tumbuhan yang terbanyak adalah jenis ganggang, sedangkan lainnya tumbuhan
biji. Hampir semua filum hewan terdapat dalam air tawar. Organisme yang hidup
di air tawar pada umumnya telah beradaptasi.
1.
Danau
Danau merupakan suatu badan air yang menggenang dan luasnya
mulai dari beberapa meter persegi hingga ratusan meter persegi. Di danau
terdapat pembagian daerah berdasarkan penetrasi cahaya matahari. Daerah yang dapat
ditembus cahaya matahari sehingga terjadi fotosintesis disebut daerah fotik.
Daerah yang tidak tertembus cahaya matahari disebut daerah afotik. Di danau
juga terdapat daerah perubahan temperatur yang drastis atau termoklin.
Termoklin memisahkan daerah yang hangat di atas dengan daerah dingin di dasar.
Komunitas tumbuhan dan hewan tersebar di danau sesuai dengan kedalaman dan
jaraknya dari tepi.

Gambar 2.8. Danau
2.
Sungai
Sungai adalah suatu badan air yang mengalir ke satu arah.
Air sungai dingin dan jernih serta mengandung sedikit sedimen dan makanan.
Aliran air dan gelombang secara konstan memberikan oksigen pada air. Suhu air
bervariasi sesuai dengan ketinggian dan garis lintang. Komunitas yang berada di
sungai berbeda dengan danau. Air sungai yang mengalir deras tidak mendukung
keberadaan komunitas plankton untuk berdiam diri, karena akan terbawa arus.
Sebagai gantinya terjadi fotosintesis dari ganggang yang melekat dan tanaman
berakar, sehingga dapat mendukung rantai makanan.
Komposisi komunitas hewan juga berbeda antara sungai, anak
sungai, dan hilir. Di anak sungai sering dijumpai Mata air tawar. Di hilir
sering dijumpai ikan kucing dan gurame. Beberapa sungai besar dihuni oleh
berbagai kura-kura dan ular. Khusus sungai di daerah tropis, dihuni oleh buaya
dan lumba-lumba. Organisme sungai dapat bertahan tidak terbawa arus karena
mengalami adaptasi evolusioner. Misalnya bertubuh tipis dorsoventral dan dapat
melekat pada batu. Beberapa jenis serangga yang hidup di sisi-sisi hilir
menghuni habitat kecil yang bebas dari pusaran air.

Gambar 2.9. Sungai
c.
Ekosistem Air Laut
Ekosistem air laut dibedakan atas :
1.
Laut
Habitat laut (oseanik) ditandai oleh salinitas (kadar
garam) yang tinggi dengan ion CI- mencapai 55% terutama di daerah laut tropik,
karena suhunya tinggi dan penguapan besar. Di daerah tropik, suhu laut sekitar
25°C. Perbedaan suhu bagian atas dan bawah tinggi. Batas antara lapisan air
yang panas di bagian atas dengan air yang dingin di bagian bawah disebut daerah
termoklin. Di daerah dingin, suhu air laut merata sehingga air dapat bercampur,
maka daerah permukaan laut tetap subur dan banyak plankton serta ikan. Gerakan
air dari pantai ke tengah menyebabkan air bagian atas turun ke bawah dan
sebaliknya, sehingga memungkinkan terbentuknya rantai makanan yang berlangsung
balk. Habitat laut dapat dibedakan berdasarkan kedalamannya dan wilayah
permukaannya secara horizontal.

Gambar 2.10. Laut
2.
Pantai
Ekosistem pantai letaknya berbatasan dengan ekosistem
darat, laut, dan daerah pasang surut. Ekosistem pantai dipengaruhi oleh siklus
harian pasang surut laut. Organisme yang hidup di pantai memiliki adaptasi
struktural sehingga dapat melekat erat di substrat keras. Daerah paling atas
pantai hanya terendam saat pasang naik tinggi. Daerah ini dihuni oleh beberapa
jenis ganggang, moluska, dan remis yang menjadi konsumsi bagi kepiting dan
burung pantai. Daerah tengah pantai terendam saat pasang tinggi dan pasang
rendah. Daerah ini dihuni oleh ganggang, porifera, anemon laut, remis dan
kerang, siput herbivora dan karnivora, kepiting, landak laut, bintang laut, dan
ikan-ikan kecil. Daerah pantai terdalam terendam saat air pasang maupun surut.
Daerah ini dihuni oleh beragam invertebrata dan ikan serta rumput laut.

Gambar 2.11. Pantai
2.3 ALIRAN ENERGI DAN MATERI DALAM EKOSISTEM ALAMI
Tenaga atau energi
dibutuhkan oleh seluruh organisme untuk melakukan suatu usaha atau aktivitas.
Sebagai contoh, tumbuhan membutuhkan energi dari cahaya matahari, hewan dan
manusia membutuhkan energi yang dihasilkan dai proses pengolahan makanan di
dalam tubuh.
Energi yang terdapat di lingkungan sekitarmu
memiliki bentuk yang bermacam-macam, seperti energi cahaya, energi listrik,
energi kimia, energi panas, dan sebagainya. Setiap bentuk energi dapat diubah
menjadi bentuk energi lainnya. para ilmuwan yang mempelajari perubahan energi
tersebut menemukan fenomena bahwa energi tidak dapat diciptakan. Fenomena ini
juga berlaku di dalam suatu ekosistem. Setiap organisme mendapatkan energinya
dengan cara mengubah energi yang berasal dari lingkungannya, seperti tumbuhan
yang bergantung pada cahaya matahari atau hewan dan manusia yang membutuhkan
makanan sebagai sumber energinya.
Macam-Macam Aliran Energi :
1.
Tingkat Trofik
Interaksi antara organisme dengan lingkungan
dapat terjadi karena adanya aliran energi. Aliran energi adalah jalur satu arah
dari perubahan energi pada suatu ekosistem. Proses aliran energi antarorganisme
dapat terjadi karena adanya proses makan dan dimakan. Proses makan dan dimakan
terjadi antara satu kelompok organisme dengan kelompok organisme lainnya.
Setiap kelompok organisme yang memiliki sumber makanan tertentu disebut dengan
tingkat trofik. Dalam suatu ekosistem terdapat beberapa macam tingkat trofik
seperti produsen, konsumen dan decomposer.
a)
Produsen
Energi memasuki suatu ekosistem dimulai dari
energi radiasi (cahaya matahari) yang sebagian diserap oleh tumbuhan, ganggang,
dan organisme fotosintetik lainnya. Energi cahaya matahari kemudian diubah menjadi
energi kimia melalui proses fotosintetik. Energi kimia tersebut disimpan dalam
bentuk senyawa organic seperti molekul glukosa. Molekul glukosa kemudian
dipecah dan digunakan sebagai sumber energi untuk melakukan aktivitas seperti
tumbuh dan berkembang, bernapas, memperbaiki jaringan yang rusak, dan lain
sebagainya. Seluruh organisme berklorofil seperti tumbuhan dan ganggang hijau
yang dapat mengolah makanannya melalui proses fotosintesis disebut organisme
autotrof atau dalam suatu ekosistem disebut dengan produsen.
b)
Konsumen
Organisme seperti hewan membutuhkan makanan
berupa organisme lain (tumbuhan atau hewan lain) sebagai sumber energinya.
Organisme yang tidak dapat mengolah makanannya disebut organisme heterotrof
atau konsumen. Konsumen dalam suatu ekosistem dapat dikelompokkan menjadi
beberapa tingkat.
Konsumen tingkat I (konsumen primer) adalah
kelompok organisme yang secara langsung memakan produsen. Anggota konsumen
authority adalah kelompok herbivore atau pemakan tumbuh-tumbuhan, seperti
belalang, kelinci, kambing, dan sebagainya.
Konsumen tingkat II (konsumen sekunder)
adalah kelompok organisme yang memakan konsumen primer. Konsumen tingkat III
(konsumen tersier) adalah kelompok organisme yang memakan konsumen sekunder.
Konsumen sekunder dan tersier beranggotakan kelompok karnivora atau pemakan
daging seperti singa, elang, ular, serigala dan sebagainya.
Selain itu, konsumen primer, konsumen
sekunder, dan seterusnya juga dapat merupakan anggota kelompok omnivore, yaitu
organisme yang memakan tumbuhan dan hewan seperti ayam, manusia, dan
sebagainya.
c)
Dekomposer
atau Detritivora
Beberapa organisme mendapatkan energinya
dengan cara memakan detritus atau materi organic dari organisme lain. Detritus
dapat berupa bangkai, feses, daun busuk, dan lain sebagainya. Organisme yang memakan
detritus disebut dengan detritivora. Organisme detritivora seperti cacing
tanah, kutu kayu, kepiting, dan siput biasanya banyak terdapat di dalam tanah
atau di dasar perairan.
Sisa-sisa materi organik tidak hanya
dihancurkan oleh detritivora. Organisme lain seperti bakteri dan jamur juga
menggunakan sisa materi organic tersebut sebagai sember energinya. Organisme
yang menggunakan sisa-sisa materi organic dan produk
terdekomposisi lainnya disebut decomposer atau saprotrof.
2.
Rantai Makanan dan
Jaring-Jaring Makanan
Rantai Makanan
Rantai makanan adalah peristiwa makan dan
dimakan antara makhluk hidup dengan urutan tertentu. Dalam rantai makanan ada
makhluk hidup yang berperan sebagai produsen, konsumen, dan
dekomposer. Berikut adalah contoh sebuah rantai makanan.

Gambar
2.12. Rantai Makanan
Pada rantai makanan tersebut terjadi proses
makan dan dimakan dalam urutan tertentu yaitu rumput dimakan belalang, belalang
dimakan katak, katak dimakan ular dan jika ular mati akan diuraikan oleh jamur
yang berperan sebagai dekomposer menjadi zat hara yang akan dimanfaatkan oleh
tumbuhan untuk tumbuh dan berkembang.
Tiap tingkat dari rantai makanan dalam suatu
ekosistem disebut tingkat trofik. Pada tingkat trofik pertama adalah organisme
yang mampu menghasilkan zat makanan sendiri yaitu tumbuhan hijau atau organisme
autotrof dengan kata lain sering disebut produsen. Organisme yang menduduki
tingkat tropik kedua disebut konsumen primer (konsumen I). Konsumen I
biasanya diduduki oleh hewan herbivora. Organisme yang menduduki tingkat tropik
ketiga disebut konsumen sekunder (Konsumen II), diduduki oleh hewan pemakan
daging (carnivora) dan seterusnya. Organisme yang menduduki tingkat tropik
tertinggi disebut konsumen puncak.
Dengan
demikian, pada rantai makanan tersebut dapat dijelaskan bahwa:
1.
Rumput sebagai produsen.
2.
Belalang sebagai konsumen I
(Herbivora).
3.
Katak sebagai konsumen II
(Carnivora).
4.
Ular sebagai konsumen III /
konsumen puncak (Carnivora).
5.
Jamur sebagai dekomposer.
Ada dua tipe dasar rantai makanan:
1)
Rantai makanan rerumputan (grazing food chain). Misalnya: tumbuhan
=> herbivora => karnivora.
2)
Rantai makanan sisa (detritus food chain). Bahan mati
mikroorganisme (detriivora= organisme pemakan sisa) predator.
Jaring-Jaring Makanan
Jaring-jaring makanan
adalah kumpulan dari rantai makanan yang saling berhubungan dan membentuk skema
mirip jaring. Kelangsungan hidup organisme membutuhkan energi dari bahan
organik yang dimakan. Bahan organik yang mengandung energi dan unsur-unsur
kimia transfer dari satu organisme ke organisme lain berlangsung melalui
interaksi makan dan dimakan. Peristiwa makan dan dimakan antar organisme dalam
suatu ekosistem membentuk struktur trofik yang bertingkat-tingkat.
Setiap tingkat trofik merupakan kumpulan
berbagai organisme dengan sumber makanan tertentu. Tingkat trofik pertama
adalah kelompok organisme autotrop yang disebut produsen. Organisme autotrof
adalah organisme yang dapat membuat bahan organik sendiri dari bahan anorganik
dengan bantuan sumber energi. Bila dapat menggunakan energi cahaya
seperti cahaya, matahari disebut fotoautotrof, contohnya tumbuhan hijau dan
fitoplankton. Apabila menggunakan bantuan energi dari reaksi-reaksi kimia disebut
kemoautotrof, misalnya, bakteri sulfur, bakteri nitrit, dan bakteri nitrat.
Tingkat tropik kedua ditempati oleh berbagai organisme yang tidak dapat
menyusun bahan organik sendiri yang disebut organisme heterotrof. Organisme
heterotrof ini hanya menggunakan zat organik dari organisme lain sehingga
disebut juga konsumen.
Pembagian konsumen adalah sebagai berikut.
a)
Konsumen
Primer
Organisme pemakan produsen atau dinamakan
herbivora yang menempati tingkat trofik kedua.
b)
Konsumen
Sekunder
Organisme pemakan herbivora yang dinamakan
karnivora kecil yang menempati tingkat trofik ketiga.
c)
Konsumen
Tersier
Organisme pemakan konsumen sekunder yang
dinamakan karnivora besar yang menempati tingkat trofik keempat.
Proses Aliran Energi dalam Ekosistem
Aliran
energi dalam ekosistem mengalami tahapan proses sebagai berikut:
1)
Energi masuk ke dalam
ekosistem berupa energi matahari, tetapi tidak semuanya dapat digunakan oleh
tumbuhan dalam proses fotosintesis. Hanya sekitar setengahnya dari rata-rata
sinar matahari yang sampai pada tumbuhan diabsorpsi oleh mekanisme
fotosintesis, dan juga hanya sebagian kecil, sekitar 1-5 %, yang diubah menjadi
makanan (energi kimia). Sisanya keluar dari sistem berupa panas, dan energi
yang diubah menjadi makanan oleh tumbuhan dipakai lagi untuk proses respirasi
yang juga sebagai keluaran dari sistem.
2)
Energi yang disimpan berupa
materi tumbuhan mungkin dilakukan melalui rantai makanan dan jaring-jaring
makanan melalui herbivora dan detrivora. Seperti telah diungkapkan sebelumnya,
terjadinya kehilangan sejumlah energi diantara tingkatan trofik, maka aliran
energi berkurang atau menurun ke arah tahapan berikutnya dari rantai makanan.
Biasanya herbivora menyimpan sekitar 10 % energi yang dikandung tumbuhan,
demikian pula karnivora menyimpan sekitar 10 % energi yang dikandung mangsanya.
3)
Apabila materi tumbuhan
tidak dikonsumsi, maka akan disimpan dalam sistem, diteruskan ke pengurai, atau
diekspor dari sistem sebagai materi organik.
4)
Organisme-organisme pada
setiap tingkat konsumen dan juga pada setiap tingkat pengurai memanfaatkan
sebagian energi untuk pernafasannya, sehingga terlepaskan sejumlah panas keluar
dari system.
5)
Dikarenakan ekosistem
adalah suatu sistem terbuka, maka beberapa materi organik mungkin dikeluarkan
menyeberang batas dari sistem. Misalnya akibat pergerakan sejumlah hewan ke
wilayah, ekosistem lain, atau akibat aliran air sejumlah gulma air keluar dari
sistem terbawa arus.
Siklus Biogeokimia
Siklus
biogeokimia atau siklus organikanorganik adalah siklus unsur atau senyawa kimia
yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen
abiotik. Siklus tersebut tidak hanya melalui organisme, tetapi juga melibatkan
reaksi-reaksi kimia dalam lingkungan abiotik sehingga disebut siklus
biogeokimia. Siklus tersebut antara lain:
1) Siklus Nitrogen (N2). Nitrogen yang
diikat biasanya dalam bentuk amonia. Amonia diperoleh dari hasil penguraian
jaringan yang mati oleh bakteri. Amonia ini akan dinitrifikasi oleh bakteri
nitrit, yaitu Nitrosomonas dan Nitrosococcus sehingga menghasilkan
nitrat yang akan diserap oleh akar tumbuhan. Selanjutnya oleh bakteri
denitrifikan, nitrat diubah menjadi amonia kembali, dan amonia diubah menjadi
nitrogen yang dilepaskan ke udara. Dengan cara ini siklus nitrogen akan
berulang dalam ekosistem.
2) Siklus Fosfor. Fosfat organik dari
hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer (pengurai) menjadi
fosfat anorganik. Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah atau air laut
akan terkikis dan mengendap di sedimen laut. Fosfor dari batu dan fosil terkikis
dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut. Fosfat anorganik
ini kemudian akan diserap oleh akar tumbuhan lagi. Siklus ini berulang
terus-menerus.
3) Siklus Karbon dan Oksigen.
Karbondioksida di udara diimanfaatkan oleh tumbuhan untuk berfotosintesis dan
menghasilkan oksigen yang nantinya akan digunakan manusia dan hewan untuk
berespirasi. Hewan dan tumbuhan yang mati, dalam waktu yang lama akan membentuk
batubara di dalam tanah. Batubara akan dimanfaatkan lagi sebagai bahan bakar yang
juga menambah kadar CO2 di udara.
2.4
MACAM-MACAM BENTUK POLA KEHIDUPAN
Makhluk hidup
dengan lingkungan tertentu membentuk pola kehidupan yang khas, sehingga
ditemukan berbagai pola kehidupan dengan kekhasan masing-masing. Adanya
perbedaan lingkungan menyebabkan timbulnya berbagai pola kehidupan.
Pola kehidupan dapat dibagi dalam tiga bagian, yaitu:
Pola kehidupan dapat dibagi dalam tiga bagian, yaitu:
a)
Pola Kehidupan di Darat
Faktor-faktor
yang mempengaruhi pola kehidupan di darat, antara lain:
1)
Keadaan tanah
2)
Suhu
3)
Angin
4)
Kelembaban udara
5)
Curah hujan
6)
Pancaran sinar matahari
Pola kehidupan
di darat dapat mengalami perubahan menurut musim, misalnya:
1.
Pada waktu musim hujan kelembaban udara cukup
tinggi, tanah basah, tumbuhan hidup subur.
2.
Pada waktu musim kemarau kelembaban udara menurun,
tumbuhan sebagian mati.
b)
Pola Kehidupan di Air
Lingkungan
hidup di air dapat dibedakan menjadi:
1)
Lingkungan air tawar: sungai, rawa, kolam, parit
2)
Lingkungan air asin: laut
3)
Lingkungan air payau: danau air tawar
Faktor yang
penting dalam kehidupan di air adalah sifat-sifat air itu sendiri, misalnya:
1)
Pola kehidupan di air akibat cahaya matahari
a.
Lingkungan air yang tembus cahaya matahari
mengakibatkan tumbuhan hijau sebagai produsen dapat mengadakan proses
fotosintesis. Proses fotosintesis menghasilkan zat makanan yang berguna bagi tumbuhan
air dan merupakan sumber makanan bagi makhluk hidup lainnya di dalam air.
b.
Lingkungan air yang dalam tidak tembus cahaya
matahari merupakan daerah yang tidak ada produsen, sehingga hewan yang hidup
adalah pemangsa dan pengurai (karnivora dan saprovora), yang mendapat makanan
dari bahan-bahan yang mengendap di dasarnya.
Dalam
kehidupan air berlangsung perpindahan energi dari sinar matahari ke tumbuhan
air ke konsumen.
2)
Pola kehidupan di air akibat zat-zat pelarut
a.
Limbah-limbah industri yang terlarut di dalam
air dapat mengakibatkan produsen dalam air tidak berkembang sehingga ikan-ikan
kekurangan makanan dan akhirnya mati.
b.
Pemupukan sering dilakukan pada kolam ikan agar
tumbuhan air sebagai produsen tumbuh subur sehingga makhluk hidup di dalam air tidak
kekurangan makanan.
3)
Pola kehidupan di air akibat gaya tekan ke atas
Karena
adanya gaya tekan ke atas oleh air berlainan pada tiap kedalaman air, maka
hewan yang hidup di daerah dasar berlainan jenisnya dengan yang hidup di daerah
permukaan.
4)
Pola kehidupan di air akibat perubahan suhu
Suhu yang
mudah berubah-ubah dapat mempengaruhi kehidupan di dalam air, baik untuk
produsen maupun bagi makhluk hidup lainnya.
Pola kehidupan
di dalam air di semua lingkungan sebenarnya sama, hanya jenis makhluk hidupnya
yang berbeda, hal ini disebabkan oleh sifat khas masing-masing lingkungan air
tersebut.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Ekosistem adalah kesatuan komunitas
dengan lingkungannya yang membentuk hubungan timbal balik.
2. Ekosistem tersusun atas tiga
komponen , yaitu komponen biotik, komponen abiotik dan komponen pengurai
(dekomposer).
3. Hubungan
antar makhluk hidup dengan lingkungannya sangat erat dan saling
ketergantungan, karena makhluk yang satu membutuhkan bantuan makhluk lain.
4. Makhluk
hidup membutuhkan lingkungan untuk membantu memenuhi kebutuhan hidupnya.
Sebaliknya lingungan juga membutuhkan makhluk hidup dalam kelangsungan
hidupnya.
B.
Saran
1. Setiap makhluk hidup membutuhkan
lingkungan yang sehat sebagai tempat tinggal. Oleh karena itu, kita harus
menjaga kebersihan tempat lingkungan terutama disekitar tempat tinggal kita.
2. Menjaga kelestarian dan
keberlangsungan hidup makhluk hidup, karena makhluk hidup yang satu dengan yang
lainnya saling ketergantungan dan tidak dapat hidup sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Wikipedia.
2014. “Populasi (biologi)”.
http://id.wikipedia.org/wiki/Populasi_(biologi).
Diakses 4 September 2014.
Komentar
Posting Komentar